Jumat, 17 Juli 2026

The Duke and I, Bab 7

Pria itu mirip kawanan domba. Ke mana pun salah satunya pergi, tak lama kemudian yang lain pasti mengikutinya.

LEMBAR BERITA LADY WHISTLEDOWN

30 APRIL 1813

 

Secara keseluruhan, Anthony menerimanya dengan lumayan baik, pikir Daphne. Pada saat Simon selesai menjelaskan rencana kecil mereka (dengan interupsi berulang kali dari pihaknya, ia harus mengakui), Anthony hanya berteriak tujuh kali. Itu tujuh kali lebih sedikit dibandingkan perkiraan Daphne.

Akhirnya, setelah Daphne memohon padanya untuk menahan diri sampai ia dan Simon selesai bercerita, Anthony mengangguk ketus, menyilangkan lengannya, dan menutup mulut sepanjang penjelasan itu. Kerutan di dahinya cukup menakutkan hingga bisa merubuhkan dinding, tapi sesuai janjinya, pria itu tetap membisu seribu bahasa.

Sampai Simon mengakhirinya dengan, “Dan begitulah rencananya.”

Sunyi. Sunyi yang mencekam. Selama sepuluh detik tidak ada apa-apa kecuali kesunyian, walaupun Daphne berani bersumpah ia bisa mendengar matanya bergerak manakala tatapannya beralih dari Anthony kepada Simon.

Kemudian akhirnya, dari Anthony: “Kalian sudah gila, ya?”

“Sudah kuduga seperti ini reaksinya,” gumam Daphne.

“Apa kalian berdua benar-benar sepenuhnya gila?” Suara Anthony menggelegar. “Aku tidak tahu siapa di antara kalian yang lebih tolol.”

“Palankan suaramu!” Desis Daphne. “Nanti Ibu bisa mendengar.”

“Ibu bakal meninggal gara-gara serangan jantung jika dia tahu apa yang kau rencanakan,” balas Anthony, tapi dengan nada yang lebih lembut.

“Tapi Ibu takkan mendengar soal ini, bukan?” balas Daphne tajam.

“Tidak,” jawab Anthony, dagunya terangkat, “karena rencana kecilmu sudah berakhir saat ini juga.”

Daphne menyilangkan lengannya. “Kau tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikanku.”

Anthony mengedikkan kepalanya ke arah Simon. “Aku bisa membunuhnya.”

“Jangan konyol.”

“Duel pernah diadakan dengan alasan yang lebih sepele.”

“Oleh orang idiot!”

“Aku tidak membantah sebutan itu jika menyangkut dirinya.”

“Kalau aku boleh menginterupsi sebentar,” tutur Simon pelan.

“Dia sahabat baikmu!” protes Daphne.

“Tidak lagi,” ucap Anthony, kedua kata itu diwarnai kekejaman yang nyaris tidak tertahankan.

Daphne menoleh kepada Simon sambil mendesah kesal. “Tidakkah kau mau mengatakan sesuatu?”

Bibir Simon melekuk membentuk senyuman geli nan samar. “Dan kapan aku bisa melakukannya?”

Anthony menoleh kepada Simon. “Kuminta kau pergi dari rumah ini.”

“Sebelum aku bisa membela diri?”

“Ini juga rumahku,” tukas Daphne geram, “dan aku mau dia tetap di sisi.”

Anthony memelototi adik perempuannya, kegusaran terlihat jelas dari sikap tubuhnya. “Baiklah,” ujarnya, “kau punya waktu dua menit untuk mengajukan pembelaan. Tidak lebih.”

Daphne melirik ragu ke arah Simon, bertanya-tanya apa pria itu ingin menggunakan dua menit itu untuknya sendiri. Tapi Simon hanya mengangkat bahu dan berkata, “Silahkan saja. Dia kan kakakmu.”

Ia menarik napas untuk menguatkan diri, tanpa sadar berkacak pinggang, dan berkata, “Pertama-tama, aku harus menekankan bahwa aku mendapat keuntungan yang lebih banyak dalam aliansi ini dibanding His Grace. Dia bilang dia ingin menggunakan diriku untuk menjauhkan semua wanita lain–”

“Dan ibu mereka,” sela Simon.

“–dan ibu mereka. Tapi sejujurnya”–Daphne melirik Simon sembari mengucap hal ini –”menurutku dia keliriu. Para wanita takkan berhenti mengajarnya hanya karena mereka pikir dia mungkin sudah berhubungan dengan wanita muda lainnya–terutama ketika wanita muda itu aku.”

“Memangnya apa yang salah denganmu?” tuntut Anthony.

Daphne mulai menjelaskan, tapi kemudian melihat lirikan aneh di antara kedua pria itu. “Apa maksudnya itu?”

“Bukan apa-apa,” gumam Anthony terlihat agak malu-malu.

“Aku menjelaskan teorimu tentang alasan kau tidak punya banyak pengagum kepada kakakmu,” jelas Simon lembut.

“Oh begitu.” Daphne mengerucutkan bibirnya sembari berusaha memutuskan apakah hal itu membuatnya kesal. “Huh. Yah, seharusnya dia sudah bisa menebaknya sendiri.”

Simon melontarkan dengusan aneh yang mungkin adalah tawa.

Daphne menatap kedua pria itu dengan tajam. “Aku berharap waktu dua menitku tidak termasuk berbagai interupsi ini.”

Simon mengangkat bahu. “Dia yang menentukan waktunya.”

Anthony mencengkram pinggiran meja, mungkin untuk menahan diri untuk tidak mencekik leher Simon, batin Daphne. “Dan dia,” ujar Anthony dengan nada mengancam, “akan mendapati dirinya melayang keluar dengan kepala terlebih dahulu melalui jendela brengsek itu jika tidak segera menutup mulutnya.”

“Tahukan kau, aku selalu curiga kaum pria itu orang idiot,” geram Daphne, “tapi aku tidak pernah benar-benar meyakininya sampai hari ini.”

Simon menyengir.

“Tanpa memperhitungkan interupsi,” geram Anthony, lagi-lagi melirik tajam ke arah Simon bahkan sembari berbicara kepada Daphne, “kau masih punya satu setengah menit.”

“Baiklah,” bentak Daphne. “Kalau begitu aku akan meringkas pembicaraan ini dengan satu fakta saja. Hari ini aku mendapat enam tamu. Enam! Bisakah kau mengingat kapan terakhir kali aku kedatangan enam tamu?”

Anthony hanya menatap adiknya dengan bingung.

“Aku tidak bisa mengingatnya,” lanjut Daphne, sekarang semangatnya membara. “Karena hal itu tidak pernah terjadi. Enam pria menaiki undakan depan kita, mengetuk pintu kita, dan memberikan kartu nama mereka kepada Humboldt. Enam pria membawakanku bunga, mengajakku berbincang-bincang, dan salah seorang di antaranya bahkan membacakan puisi.”

Simon mengernyit.

“Dan tahukah kau kenapa hal itu terjadi?” desak Daphne, suaranya semakin lantang dan berbahaya. “Tahukah kau?”

Dengan bijak, walau datangnya agak terlambat, Anthony menahan diri untuk tidak berkomentar.

“Itu semua karena dia”–Daphne mengacungkan telunjuknya dengan kuat ke arah Simon–” cukup baik hati untuk berpura-pura terterik kepadaku semalam di pesta dansa Lady Danbury.”

Simon, yang bersandar dengan santai ke bibir meja, mendadak menegakkan tubuhnya. “Eh, tunggu dulu,” ucapnya cepat-cepat, “menurutku tidak persis seperti itu.”

Daphne menoleh ke arah Simon, sorot matanya luar biasa tenang. “Dan menurutmu bagaimana persisnya?”

Simon hanya sempat berkata, “Aku–” sebelum gadis itu menambahkan, “Karena yakinlah, para pria itu belum pernah menganggapku wanita yang layak mereka kunjungi.”

“Jika mata mereka sangat lamur,” ucap Simon pelan, “mengapa kau memedulikan perhatian mereka?”

Daphne terdiam, mundur sedikit. Simon curiga dirinya barusan mengatakan sesuatu yang amat sangat keliru, tapi masih tidak yakin sampai ia melihat gadis itu mengerjapkan mata.

Sial.

Kemudian gadis itu mengusap salah satu matanya. Daphne terbatuk manakala melakukannya, berusaha menyembunyikan gerakan itu dengan berpura-pura menutup mulutnya, tapi Simon masih merasa amat sangat bersalah.

“Tuh lihat apa yang kau lakukan,” bentak Anthony. Ia memegang lengan adiknya dengan lembut sembari memelototi Simon. “Jangan pedulikan dia, Daphne. Dia itu bajingan.”

“Mungkin,” isak Daphne. “Tapi dia bajingan yang pintar.”

Mulut Anthony menganga. Daphne menatap kakaknya dengan sebal. “Yah, kalau kau tidak mau aku meniru ucapanmu, seharusnya kau tidak mengucapkannya.”

Anthony mendesah letih. “Benarkah ada enam pria di sini siang ini?”

Daphne mengangguk. “Tujuh termasuk Hastings.”

“Dan,” tanya Anthony hati-hati, “adakah di antara mereka yang mungkin ingin kau jadikan suami?”

Simon menyadari jemarinya mencengkram pahanya dengan begitu kuat dan memaksa dirinya memindahkan tangannya ke meja.

Daphne mengangguk lagi. “Mereka semua pria yang sebelumnya bersahabat denganku. Hanya saja mereka belum pernah menganggapku sebagai kandidat istri sebelum Hastings membuka jalan ke sana. Dengan kesempatan yang cukup, aku mungkin akan menyukai salah satu di antara mereka.”

“Tapi–” Simon cepat-cepat menutup mulutnya.

“Tapi apa?” tanya Daphne, menoleh kepada Simon dengan sorot mata penasaran.

Terpikir olehnya bahwa apa yang ingin dikatakannya adalah jika keenam pria itu baru menyadari daya tarik Daphne hanya karena seorang duke menunjukkan ketertarikan kepada gadis itu, berarti mereka semua orang tolol, dan oleh karena itu Daphne seharusnya bahkan tidak mempertimbangkan untuk menikahi mereka. Tapi mengingat dirinyalah yang mengusulkan bahwa ketertarikannya akan menghasilkan lebih banyak pengagum bagi Daphne – yah, sejujurnya, mengungkit hal itu sama saja dengan menggagalkan rencananya.

“Bukan apa-apa,” akhirnya Simon berkata, mengangkat tangan dan melambai dengan sikap jangan-pedulikan-aku. “Itu tidak penting.”

Daphne menatapnya beberapa saat, seolah menunggu Simon berubah pikiran, kemudian kembali menoleh kepada kakaknya. “Kalau begitu, apa kau mengakui kebijakan rencana kami?”

“’Bijak’ mungkin terlalu bagus, tapi–” Anthony terlihat tidak rela mengatakannya–“aku bisa mengerti bagaimana hal ini mungkin akan menguntungkanmu.”

“Anthony, aku harus menemukan suami. Selain fakta ibu merongrongku setengah mati, aku menginginkan suami. Aku ingin menikah dan punya keluargaku sendiri. Aku menginginkannya lebih daripada yang bisa kau bayangkan. Dan sejauh ini, tidak ada pria layak yang pernah meminangku.”

Simon tidak tahu bagaimana mungkin Anthony bisa bertahan menghadapi permohonan hangat di mata kelam gadis itu. Dan, benar saja, Anthony melemas ke meja dan mengerang letih. “Baiklah,” ujarnya, memejamkan mata seolah ia tidak bisa memercayai apa yang dikatakannya, “kalau memang harus, aku akan menyetujui rencana ini.”

Daphne meloncat dan memeluk kakaknya.

“Oh, Anthony, aku tahu kau kakakku yang terbaik.” Ia mencium pipi kakaknya. “Kau hanya terkadang salah arah.”

Anthony memandang ke atas dengan pasrah sebelum memusatkan perhatiannya pada Simon. “Kau lihat tidak apa yang harus kuhadapi?” tanyanya sambil menggeleng. Suaranya mengandung nada khusus yang hanya digunakan oleh seorang pria yang putus asa kepada sesamanya.

Simon terkekeh pelan sembari bertanya-tanya kapan dirinya berubah dari perayu jahat menjadi teman baik.

“Tapi,” ucap Anthony keras, mendorong Daphne mundur selangkah, “ada beberapa persyaratan dariku.”

Daphne tidak berkata apa-apa, hanya berkedip sembari menunggu kakaknya melanjutkan ucapannya.

“Pertama-tama, hal ini tidak tersebar ke luar dari ruangan ini.”

“Setuju,” sahut Daphne cepat.

Anthony menatap penuh arti kepada Simon.

“Tentu saja,” jawab Simon.

“Ibu pasti sangat kecewa jika dia tahu yang sebenarnya.”

“Sebenarnya,” gumam Simon, “aku lebih suka berpikir ibumu akan mengagumi kecerdikan kami, tapi karena jelas kau sudah lebih lama mengenalnya, lebih baik aku mengikuti saranmu.”

Anthony menatapnya dengan dingin. “Kedua, dalam situasi apa pun, kalian tidak boleh sendirian saja. Kapan pun.”

“Yah, itu sih gampang,” sahut Daphne, “karena lagi pula, kami tidak diizinkan sendirian jika kami sungguh-sungguh dalam proses pendekatan.”

Simon mengenang pertemuan singkat mereka di aula rumah Lady Danbury, dan merasa rugi karena tidak diizinkan punya waktu sendirian lagi bersama Daphne, tapi ia mengenali dinding kokoh ketika melihatnya, terutama ketika dinding tersebut kebetulan bernama Anthony Bridgerton. Jadi ia hanya mengangguk dan menggumamkan persetujuannya.

“Ketiga–”

“masih ada yang ketiga?” tanya Daphne.

“Ada tiga puluh syarat kalau saja aku bisa menemukannya,” gerutu Anthony.

“Baiklah,” Daphne mengalah, terlihat sangat gemas. “Jika memang harus.”

Untuk sedetik Simon pikir Anthony akan mencekik gadis itu.

“Apa yang kau tertawakan?” desak Anthony.

Baru pada saat itu Simon menyadari dirinya tertawa singkat dan pelan. “Bukan apa-apa,” jawabnya cepat.

“Bagus,” geram Anthony, “karena syarat ketiganya: Jika aku pernah, sekali pun, memergokimu melakukan tindakan apa pun yang merusak reputasinya… Jika aku bahkan pernah menangkap basah kau mencium tangan Daphne tanpa kehadiran pendamping, aku akan memenggal kepalamu.”

Daphne berkedip. “Tidakkah menurutmu itu agak berlebihan?”

Anthony menatap tajam ke arah Daphne. “Tidak.”

“Oh.”

“Hastings?”

Simon tidak punya pilihan selain mengangguk.

“Bagus,” sahut Anthony parau. “Dan sekarang karena kita sudah selesai membahas hal itu, kau”– ia mengedikkan kepala dengan agak kasar ke arah Simon– “bisa pergi.”

“Anthony!” seru Daphne.

“Aku berasumsi ini berarti aku batal diundang makan malam hari ini?” tanya Simon.

“ya.”

“Tidak!” Daphne menusuk lengan kakaknya. “Kau mengundang Hastings untuk makan malam? Kenapa kau tidak bilang-bilang?”

“Itu sudah beberapa hari yang lalu,” gerutu Anthony. “Bertahun-tahun lalu.”

“Itu baru senin kemarin,” tukas Simon.

“Yah, kalau begitu kau harus bergabung dengan kami,” ucap Daphne tegas. “Ibu pasti akan sangat senang. Dan kau”–ia menusukkan jarinya ke lengan Anthony–“berhentilah memikirkan cara meracuni His Grace.”

Sebelum Anthony bisa merespons, Simon meremehkan kata-kata Daphne dengan kekehan. “Jangan mengkhawatirkan diriku, Daphne. Kau lupa aku bersekolah bersama kakakmu selama hampir satu dekade. Dia tidak pernah memahami prinsip kimia.”

“Aku akan membunuhnya,” kata Anthony pada dirinya sendiri. “Sebelum minggu ini berakhir, aku akan membunuhnya.”

“Tidak, kau takkan membunuhnya,” bantah Daphne riang. “Besok kalian sudah akan melupakan semua ini dan menghisap cerutu di White’s.”

“Kurasa tidak,” tukas Anthony mengancam.

“Tentu saja ya. Tidakkah kau setuju, Simon?”

Simon mencermati wajah sahabat baiknya dan menyadari ia melihat sesuatu yang baru. Sesuatu di mata sahabatnya. Sesuatu yang serius.

Enam tahun lalu, ketika Simon meninggalkan Inggris, ia dan Anthony masih pemuda tanggung. Oh, mereka pikir mereka sudah dewasa. Mereka berjudi, meniduri banyak wanita, dan berhura-hura di antara masyarakat kelas atas, dibutakan oleh status masing-masing, tapi sekarang mereka tidak lagi begitu.

Sekarang mereka benar-benar sudah dewasa.

Simon merasakan perubahan da;am dirinya, selama perjalanannya. Itu perubahan yang berlangung dengan pelan, seiring berjalannya waktu manakala ia menghadapi tantangan baru. Tapi sekarang ia menyadari ia kembali ke Inggris masih membayangkan Anthony sebagai pemuda berusia 22 tahun yang dulu ditinggalkannya.

Ia tersadar dirinya telah bersikap sangat tidak adil kepada sahabatnya, gagal menyadari pria itu juga sudah menjadi pria dewasa. Anthony mempunyai tanggung jawab yang tidak pernah dibayangkan oleh Simon. Anthony mempunyai adik lelaki yang harus dibimbing, dan adik perempuan yang harus dilindungi. Simon punya gelar duke, tapi Anthony punya keluarga.

Itu perbedaan yang amat sangat besar, dan Simon mendapati dirinya tidak bisa menyalahkan sikap sahabatnya yang overprotektif dan agak degil.

“Menurutku,” ucap Simon perlahan, akhirnya menjawab pertanyaan Daphne, “aku dan kakakmu orang yang berbeda dibanding enam tahun lalu ketika kami bertingkah laku liar dan semaunya sendiri. Dan menurutku itu mungkin bukanlah hal yang buruk.”

 

Beberapa jam kemudian, kediaman Bridgerton kacau balau.

Daphne telah mengganti bajunya dengan gaun malam beledu berwarna hijau tua–seseorang pernah berkomentar bahwa pakaian itu membuat matanya tidak terlalu terlihat coklat. Dan saat ini ia berada di aula utama, berusaha mencari cara menenangkan kegugupan ibunya.

“Aku tidak percaya Anthony lupa memberitahuku dia mengundang sang duke untuk makan malam. Aku tidak punya waktu untuk bersiap-siap. Sama sekali,” tutur Violet, sebelah tangannya ditekankan ke dadanya.

Daphne mengamati menu di tangannya, yang dimulai dengan sup bulus dan menyantap tiga masakan lainnya sebelum berakhir dengan domba dengan saus bechamel–saus putih kental yang terbuat dari mentega dan krim–(tentu saja dilanjutkan dengan memilih salah satu dari keempat makanan pencuci mulut). Ia berusaha menyingkirkan nada sinis dari suaranya manakala berkata, “Kurasa sang duke takkan punya alasan untuk mengeluh.”

“Kuharap begitu,” balas Violet. “Tapi kalau aku tahu dia mau datang, aku akan memastikan aku menyediakan hidangan daging sapi juga. Orang tidak dapat menjamu orang lain tanpa hidangan daging sapi.”

“Dia tahu ini acara makan informal.”

Violet menatap tajam kepada putrinya. “Tidak ada yang namanya acara makan informal ketika ada duke yang bertamu.”

Daphne mengamati ibunya lekat-lekat. Violet meremas-remas tangannya dan mengertakkan gigi. “Ibu,” ujar Daphne, “kurasa sang duke bukanlah tipe orang yang mengharapkan kita untuk secara drastis mengubah rencana makan malam keluarga demi dirinya.”

“Dia mungkin tidak mengharapkannya,” tutur Violet, “melainkan aku. Daphne, ada beberapa aturan dalam masyarakat. Pengharapan. Dan sejujurnya, aku tidak tahu bagaimana kau bisa begitu tenang dan tidak peduli.”

“Aku bukannya tidak peduli!”

“Kau sudah pasti tidak terlihat gugup.” Violet mencermati putrinya dengan curiga. “Kenapa kau bisa tidak merasa gugup? Ya ampun, Daphne, pria ini mempertimbangkan untuk menikahimu.”

Daphne berhasil menahan diri tepat sebelum ia mengerang. “Dia tidak pernah bilang begitu, Bu.”

“Dia tidak perlu mengatakannya. Buat apa lagi dia berdansa denganmu semalam? Satu-satunya wanita lain yang dihormatinya sebesar itu adalah Penelope Featherington, dan kita berdua tahu itu pasti gara-gara rasa iba.”

“Aku suka Penelope,” kata Daphne.

“Aku juga suka Penelope,” balas Violet, “dan aku sangat mengharapkan hari di mana I bunya menyadari bahwa gadis dengan kulit dan rambut sepertinya tidak bisa mengenakan satin jingga, tapi bukan itu inti masalahnya.”

“Apa inti masalahnya?”

“Aku tidak tahu!” Violet nyaris menangis.

Daphne menggeleng. “Aku akan mencari Eloise.”

“Ya, baiklah,” ucap Violet sambil lalu, “dan pastika Gregory sudah bersih. Dia tidak pernah membersihkan bagian belakang telinganya. Dan Hyacinth–Astaga, apa yang akan kita lakukan dengan Hyacinth–Hastings tak kan mengharapkan anak berumur sepuluh tahun di meja.”

“Ya, dia akan mengharapkannya,” sahut Daphne sabar. “anthony memberitahunya kita akan makan sebagai keluarga.”

“Kebanyakan keluarga tidak mengizinkan anak-anak mereka yang masih kecil untuk makan bersama mereka,” papar Violet.

“Kalau begitu itu masalah mereka.” Daphne akhirnya menyerah terhadap kekesalannya dan mendesah keras. “Ibu, aku sudah berbicara dengan sang duke. Dia mengerti ini bukan acara makan resmi. Dia sendiri memberitahuku dia memang mengharapkan suasana yang berbeda. Dia tidak punya keluarga, jadi tidak pernah merasakan apa pun seperti makan malam keluarga Bridgerton.”

“Semoga Tuhan membantu kita.” Wajah Violet langsung pucat pasi. “Sudahlah, Ibu,” ucap Daphne cepat-cepat, “aku tahu apa yang engkau pikirkan, dan percayalah kau tidak perlu mengkhawatirkan Gregory menaruh kentang krim di kursi Francesca lagi. Aku yakin dia sudah meninggalkan tindak tanduk kekanakan semacam itu.”

“Dia melakukannya minggu lalu!”

“Yah, kalau begitu aku yakin dia sudah kapok,” balas Daphne lugas, tidak ragu sedikit pun.

Sorot mata Violet yang diarahkan kepada putrinya terlihat amat sangat curiga.

“Baiklah,” ucap Daphne, suaranya jauh lebih ramah, “kalau begitu aku akan mengancam akan membunuhnya jika dia mengecewakanmu dalam ahl apa pun.”

“Kematian tidak menakutkan bagi Gregory,” renung Violet, “tapi mungkin aku bisa mengancam untuk menjual kudanya.”

“Dia takkan pernah memercayaimu.”

“Tidak, kau benar. Aku terlalu lunak,” Violet mengerutkan dahi. “Tapi dia mungkin memercayaiku jika aku memberitahunya dia akan dilarang berkuda seperti yang dilakukannya sehari-hari.”

“Itu mungkin berhasil,” Daphne menyetujui. “Bagus. Aku akan pergi dan mengancamnya supaya tidak bertingkah aneh-aneh.” Violet mengambil dua langkah kemudian berbalik. “Punya anak itu tantangan yang sulit.”

Daphne hanya tersenyum. Ia tahu itu tantrangan yang disukai ibunya.

Violet berdehem pelan, menandakan pembicaraan yang lebih serius. “Aku sungguh berharap makan malam ini berjalan dengan baik, Daphne. Kurasa Hastings bisa menjadi pasangan yang bagus untukmu.”

“Mungkin?” goda Daphne. “Kupikir duke merupakan pasangan yang baik bahkan jika mereka punya dua kepala dan meludah sembari berbicara.” Ia tergelak. “Dari kedua mulut mereka.”

Violet tersenyum takzim. “Kau mungkin sulit memercayainya, Daphne, tapi aku tidak ingin melihatmu menikah dengan sembarang orang. Aku mungkin memperkenalkanmu dengan begitu banyak pria yang layak, tapi itu hanya karena aku ingin kau mempunyai sebanyak mungkin pengagum yang akan kau pilih sebagai suamimu.” Violet tersenyum sendu. “Impian terbesarku adalah melihatmu sebahagia diriku ketika aku bersama ayahmu.”

Kemudian, sebelum Daphne bisa membalasnya, Violet sudah menghilang di Aula.

Meninggalkan Daphne diliputi keraguan.

Mungkin rencana dengan Hastings ini ternyata bukanlah gagasan yang bagus. Violet pasti sedih sekali ketika mereka memutuskan hubungan palsu mereka. Simon berkata Daphe boleh menjadi pihak yang memutuskannya, tapi ia mulai bertanya-tanya apa mungkin lebih baik jika pria itu yang memutuskannya. Memang memalukan bagi Daphne untuk dicampakkan oleh Simon, tapi paling tidak dengan begitu ia tidak perlu menghadapi keluh-kesah bingung “Kenapa?” Violet.

Violet bakal berpikir Daphne sudah gila karena melepaskan Simon.

Dan membuat Daphne bertanya-tanya apa mungkin ibunya memang benar.

 

Simon tidak siap menghadapi makan malam bersama keluarga Bridgerton. Itu acara yang berisik dan riuh-rendah, dengan banyak tawa dan, untungnya, hanya satu insiden menyangkut kacang polong terbang. (Tampaknya kacang polong itu berasal dari tempat Hyacinth duduk, tapi anak bungsu Bridgerton itu terlihat begitu polos dan manis hingga Simon sulit memercayai anak perempuan itulah yang melempar kacang polong ke arah kakak lelakinya.)

Untungnya Violet tidak menyadari kacang polong terbang itu, walaupun benda tersebut melayang tepat di atas kepalanya dalam lengkungan yang sempurna.

Tapi Daphne, yang duduk tepat di seberang Simon, jelas melihatnya, karena gadis itu langsung menyambar serbet untuk menutupi mulutnya. Melihat mata gadis berkerut di sudutnya, Dpahne pasti tertawa di balik kain linen bujur sangkar tersebut.

Simon nyaris tidak berbicara sepanjang acara makan malam itu. Sejujurnya, lebih mudah mendengarkan para Bridgerton daripada benar-benar mencoba berbicara dengan mereka, terutama mengingat sejumlah tatapan tajam yang diterimanya dari Anthony dan Benedict.

Tapi Simon ditempatkan di ujung meja yang satunya, menjauhi kedua anak tertua Bridgerton (ia yakin ini bukan kebetulan, melainkan disengaja oleh Violet) jadi relatif mudah baginya untuk mengabaikan kedua orang itu dan alih-alih menikmati interaksi Daphne dengan keluarganya. Zesekali salah satu di antara mereka bertanya langsung kepadanya, dan ia akan menjawabnya, kemudian ia akan kembali mengamati mereka sambil berdiam diri.

Akhirnya, Hyacinth, yang duduk di kanan Daphne, menatap mata Simon lurus-lurus dan berkata, “Kau tidak banyak bicara, ya?”

Violet tersedak minuman anggurnya.

“Sang duke,” ujar Daphne kepada Hyacinth, “jauh lebih sopan dibanding kita, yang tanpa henti terjun dalam pembicaraan dan menyela satu sama lain seolah takut kata-kata kita takkan didengar.”

“Aku tidak takut kata-kataku takkan terdengar,” sahut Gregory.

“Aku juga tidak mengkhawatirkannya,” komentar Violet hambar. “Gregory, habiskan kacang polongmu.”

“Tapi Hyacinth – ”

“Lady Bridgerton,” ucap Simon keras-keras, “bolehkan aku menambah kacang polong yang lezat itu?”

“Wah, tentu saja.” Violet menatap tajam kepada Gregory. “Lihat, sang duke menghabiskan kacang polongnya.”

Gregory melahap kacang polongnya.

Simon tersenyum simpul sembari menyendok seporsi kacang polong lagi ke piringnya, bersyukur Lady Bridgerton tidak memutuskan untuk menyajikan makan malam secara informal. Sulit baginya untuk menghalangi tuduhan Gregory tentang Hyacinth sebagai pelempar kacang polong jika ia harus memanggil jongos untuk mengambilkan makanannya.

Simon menyibukkan diri dengan kacang polongnya, karena ia benar-benar tidak punya pilihan selain menghabiskannya tanpa sisa sebutir pun. Namun  ia diam-diam melirik ke arah Daphne yang menyunggingkan senyum samar. Mata gadis itu memancarkan rasa geli, dan Simon merasakan sudut bibirnya ikut melekuk naik.

“Anthony, kenapa kau cemberut?” tabnya salah satu anak perempuan Bridgerton lainnya – Simon pikir itu mungkin Francesca, tapi ia sulit memastikannya. Kedua anak perempuan itu terlihat amat mirip, bahkan sampai ke mata biru mereka, seperti ibu mereka.

“Aku tidak cemberut,” bantah Anthony keras, tapi Simon, karena sudah hampir satu jam menerima tatapan cemberut itu, berpikir sahabatnya berbohong.

“Ya, kok,” kata Francesca atau eloise.

Nada jawaban Anthony amat sangat angkuh. “Kalau kau pikir aku akan berkata ‘nggak kok,’ kau salah besar,”

Daphne tertawa di balik serbetnya lagi.

Simon memutuskan saat ini kehidupan jauh lebih menyenangkan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Tahu tidak,” mendadak Violet mengumumkan, “menurutku ini salah satu malam paling menyenangkan tahun ini. Bahkan jika anak bungsuku melemparkan kacang polongnya,” ia melirik ke ujung meja, ke arah Hyacinth.

Simon mendongak tepat ketika Hyacinth berseru, “bagaimana kau bisa tahu?”

Violet menggeleng sembari memutar bola matanya. “anak-anakku sayang, kapankah kalain belajar bahwa aku tahu segalanya?” komentarnya.

Simon memutuskan ia sangat menghormati Violet Bridgerton.

Tapi, meski demikian, wanita itu berhasil benar-benar membingungkannya dengan pertanyaan dan menyuman. “Your Grace,” ucap Violet, “kau sibuk tidak besok?”

Meski berambut pirang dan bermata biru, Violet terlihat sangat mirip Daphne manakala melontarkan pertanyaan itu hingga untuk sesaat Simon terpana. Pasti itulah satu-satunya alasan ia tidak berpikir sebelum menjawab dengan tergagap, “Ti-tidak. Seingatku tidak.”

“Bagus sekali!” seru Violet berseri-seri. “kalau begitu kau harus bergabung dengan kami dalam piknik ke Greenwich.”

“Greenwich?” ulang Simon.

“Ya, sudah beberapa minggu ini kami merencanakan piknik keluarga. Kami pikir kami akan menyewa kapal, kemudian mungkin berpiknik di pesisir Thames.” Violet tersenyum yakin kepada Simon. “kau mau ikut, bukan?”

“Ibu,” sela Daphne, “aku yakin sang duke sudah punya sejumlah janji lain.”

Violet menatap Daphne dengan tatapan yang sangat dingin hingga Simon terkejut tidak seorang pun dari mereka berubah menjadi es. “Omong kosong,” jawab Violet. “Dia sendiri yang berkata dia tidak sibuk.” Ia kembali menghadap Simon. “Dan kita juga akan mengunjungi The Royal Observatory, jadi kau tidak perlu khawatir ini akan menjadi kegiatan tanpa arti. Tempat itu tentu saja tidakd terbuka untuk umum, tapi almarhum suamiku salah satu penyandang dana di sana, jadi kita pasti bisa masuk.”

Simon menatap Daphne. Gadis itu hanya mengangkat bahu dan meminta maaf dengan sorot matanya. Ia kembali menatap Violet. “Dengan senang hati.”

Violet berseri-seri dan menepuk-nepuk lengan Simon.

Dan Simon mendapat firasat kuat nasibnya baru saja ditetapkan.



Sinopsis


Tidak ada komentar:

Posting Komentar