Pria itu mirip kawanan domba. Ke mana pun salah satunya pergi, tak lama kemudian yang lain pasti mengikutinya.
LEMBAR BERITA LADY WHISTLEDOWN
30 APRIL 1813
Secara keseluruhan, Anthony menerimanya dengan lumayan
baik, pikir Daphne. Pada saat Simon selesai menjelaskan rencana kecil mereka
(dengan interupsi berulang kali dari pihaknya, ia harus mengakui), Anthony
hanya berteriak tujuh kali. Itu tujuh kali lebih sedikit dibandingkan perkiraan
Daphne.
Akhirnya, setelah Daphne memohon padanya untuk menahan
diri sampai ia dan Simon selesai bercerita, Anthony mengangguk ketus,
menyilangkan lengannya, dan menutup mulut sepanjang penjelasan itu. Kerutan di
dahinya cukup menakutkan hingga bisa merubuhkan dinding, tapi sesuai janjinya,
pria itu tetap membisu seribu bahasa.
Sampai Simon mengakhirinya dengan, “Dan begitulah
rencananya.”
Sunyi. Sunyi yang mencekam. Selama sepuluh detik tidak
ada apa-apa kecuali kesunyian, walaupun Daphne berani bersumpah ia bisa
mendengar matanya bergerak manakala tatapannya beralih dari Anthony kepada
Simon.
Kemudian akhirnya, dari Anthony: “Kalian sudah gila,
ya?”
“Sudah kuduga seperti ini reaksinya,” gumam Daphne.
“Apa kalian berdua benar-benar sepenuhnya gila?”
Suara Anthony menggelegar. “Aku tidak tahu siapa di antara kalian yang lebih
tolol.”
“Palankan suaramu!” Desis Daphne. “Nanti Ibu bisa
mendengar.”
“Ibu bakal meninggal gara-gara serangan jantung jika
dia tahu apa yang kau rencanakan,” balas Anthony, tapi dengan nada yang lebih
lembut.
“Tapi Ibu takkan mendengar soal ini, bukan?”
balas Daphne tajam.
“Tidak,” jawab Anthony, dagunya terangkat, “karena
rencana kecilmu sudah berakhir saat ini juga.”
Daphne menyilangkan lengannya. “Kau tidak bisa
melakukan apa pun untuk menghentikanku.”
Anthony mengedikkan kepalanya ke arah Simon. “Aku bisa
membunuhnya.”
“Jangan konyol.”
“Duel pernah diadakan dengan alasan yang lebih
sepele.”
“Oleh orang idiot!”
“Aku tidak membantah sebutan itu jika menyangkut dirinya.”
“Kalau aku boleh menginterupsi sebentar,” tutur Simon
pelan.
“Dia sahabat baikmu!” protes Daphne.
“Tidak lagi,” ucap Anthony, kedua kata itu diwarnai
kekejaman yang nyaris tidak tertahankan.
Daphne menoleh kepada Simon sambil mendesah kesal.
“Tidakkah kau mau mengatakan sesuatu?”
Bibir Simon melekuk membentuk senyuman geli nan samar.
“Dan kapan aku bisa melakukannya?”
Anthony menoleh kepada Simon. “Kuminta kau pergi dari
rumah ini.”
“Sebelum aku bisa membela diri?”
“Ini juga rumahku,” tukas Daphne geram, “dan aku mau
dia tetap di sisi.”
Anthony memelototi adik perempuannya, kegusaran
terlihat jelas dari sikap tubuhnya. “Baiklah,” ujarnya, “kau punya waktu dua
menit untuk mengajukan pembelaan. Tidak lebih.”
Daphne melirik ragu ke arah Simon, bertanya-tanya apa
pria itu ingin menggunakan dua menit itu untuknya sendiri. Tapi Simon hanya
mengangkat bahu dan berkata, “Silahkan saja. Dia kan kakakmu.”
Ia menarik napas untuk menguatkan diri, tanpa sadar
berkacak pinggang, dan berkata, “Pertama-tama, aku harus menekankan bahwa aku
mendapat keuntungan yang lebih banyak dalam aliansi ini dibanding His Grace.
Dia bilang dia ingin menggunakan diriku untuk menjauhkan semua wanita lain–”
“Dan ibu mereka,” sela Simon.
“–dan ibu mereka. Tapi sejujurnya”–Daphne melirik
Simon sembari mengucap hal ini –”menurutku dia keliriu. Para wanita takkan
berhenti mengajarnya hanya karena mereka pikir dia mungkin sudah berhubungan
dengan wanita muda lainnya–terutama ketika wanita muda itu aku.”
“Memangnya apa yang salah denganmu?” tuntut Anthony.
Daphne mulai menjelaskan, tapi kemudian melihat lirikan
aneh di antara kedua pria itu. “Apa maksudnya itu?”
“Bukan apa-apa,” gumam Anthony terlihat agak
malu-malu.
“Aku menjelaskan teorimu tentang alasan kau tidak
punya banyak pengagum kepada kakakmu,” jelas Simon lembut.
“Oh begitu.” Daphne mengerucutkan bibirnya sembari
berusaha memutuskan apakah hal itu membuatnya kesal. “Huh. Yah, seharusnya dia
sudah bisa menebaknya sendiri.”
Simon melontarkan dengusan aneh yang mungkin adalah
tawa.
Daphne menatap kedua pria itu dengan tajam. “Aku
berharap waktu dua menitku tidak termasuk berbagai interupsi ini.”
Simon mengangkat bahu. “Dia yang menentukan waktunya.”
Anthony mencengkram pinggiran meja, mungkin untuk
menahan diri untuk tidak mencekik leher Simon, batin Daphne. “Dan dia,”
ujar Anthony dengan nada mengancam, “akan mendapati dirinya melayang keluar
dengan kepala terlebih dahulu melalui jendela brengsek itu jika tidak segera
menutup mulutnya.”
“Tahukan kau, aku selalu curiga kaum pria itu orang
idiot,” geram Daphne, “tapi aku tidak pernah benar-benar meyakininya sampai
hari ini.”
Simon menyengir.
“Tanpa memperhitungkan interupsi,” geram Anthony,
lagi-lagi melirik tajam ke arah Simon bahkan sembari berbicara kepada Daphne,
“kau masih punya satu setengah menit.”
“Baiklah,” bentak Daphne. “Kalau begitu aku akan
meringkas pembicaraan ini dengan satu fakta saja. Hari ini aku mendapat enam
tamu. Enam! Bisakah kau mengingat kapan terakhir kali aku kedatangan enam
tamu?”
Anthony hanya menatap adiknya dengan bingung.
“Aku tidak bisa mengingatnya,” lanjut Daphne, sekarang
semangatnya membara. “Karena hal itu tidak pernah terjadi. Enam pria
menaiki undakan depan kita, mengetuk pintu kita, dan memberikan kartu nama
mereka kepada Humboldt. Enam pria membawakanku bunga, mengajakku
berbincang-bincang, dan salah seorang di antaranya bahkan membacakan puisi.”
Simon mengernyit.
“Dan tahukah kau kenapa hal itu terjadi?” desak
Daphne, suaranya semakin lantang dan berbahaya. “Tahukah kau?”
Dengan bijak, walau datangnya agak terlambat, Anthony
menahan diri untuk tidak berkomentar.
“Itu semua karena dia”–Daphne mengacungkan
telunjuknya dengan kuat ke arah Simon–” cukup baik hati untuk berpura-pura
terterik kepadaku semalam di pesta dansa Lady Danbury.”
Simon, yang bersandar dengan santai ke bibir meja,
mendadak menegakkan tubuhnya. “Eh, tunggu dulu,” ucapnya cepat-cepat,
“menurutku tidak persis seperti itu.”
Daphne menoleh ke arah Simon, sorot matanya luar biasa
tenang. “Dan menurutmu bagaimana persisnya?”
Simon hanya sempat berkata, “Aku–” sebelum gadis itu
menambahkan, “Karena yakinlah, para pria itu belum pernah menganggapku wanita
yang layak mereka kunjungi.”
“Jika mata mereka sangat lamur,” ucap Simon pelan,
“mengapa kau memedulikan perhatian mereka?”
Daphne terdiam, mundur sedikit. Simon curiga dirinya
barusan mengatakan sesuatu yang amat sangat keliru, tapi masih tidak yakin
sampai ia melihat gadis itu mengerjapkan mata.
Sial.
Kemudian gadis itu mengusap salah satu matanya. Daphne
terbatuk manakala melakukannya, berusaha menyembunyikan gerakan itu dengan
berpura-pura menutup mulutnya, tapi Simon masih merasa amat sangat bersalah.
“Tuh lihat apa yang kau lakukan,” bentak Anthony. Ia
memegang lengan adiknya dengan lembut sembari memelototi Simon. “Jangan
pedulikan dia, Daphne. Dia itu bajingan.”
“Mungkin,” isak Daphne. “Tapi dia bajingan yang
pintar.”
Mulut Anthony menganga. Daphne menatap kakaknya dengan
sebal. “Yah, kalau kau tidak mau aku meniru ucapanmu, seharusnya kau tidak
mengucapkannya.”
Anthony mendesah letih. “Benarkah ada enam pria di
sini siang ini?”
Daphne mengangguk. “Tujuh termasuk Hastings.”
“Dan,” tanya Anthony hati-hati, “adakah di antara
mereka yang mungkin ingin kau jadikan suami?”
Simon menyadari jemarinya mencengkram pahanya dengan
begitu kuat dan memaksa dirinya memindahkan tangannya ke meja.
Daphne mengangguk lagi. “Mereka semua pria yang
sebelumnya bersahabat denganku. Hanya saja mereka belum pernah menganggapku
sebagai kandidat istri sebelum Hastings membuka jalan ke sana. Dengan
kesempatan yang cukup, aku mungkin akan menyukai salah satu di antara mereka.”
“Tapi–” Simon cepat-cepat menutup mulutnya.
“Tapi apa?” tanya Daphne, menoleh kepada Simon dengan
sorot mata penasaran.
Terpikir olehnya bahwa apa yang ingin dikatakannya
adalah jika keenam pria itu baru menyadari daya tarik Daphne hanya karena
seorang duke menunjukkan ketertarikan kepada gadis itu, berarti mereka
semua orang tolol, dan oleh karena itu Daphne seharusnya bahkan tidak
mempertimbangkan untuk menikahi mereka. Tapi mengingat dirinyalah yang
mengusulkan bahwa ketertarikannya akan menghasilkan lebih banyak pengagum bagi
Daphne – yah, sejujurnya, mengungkit hal itu sama saja dengan menggagalkan
rencananya.
“Bukan apa-apa,” akhirnya Simon berkata, mengangkat
tangan dan melambai dengan sikap jangan-pedulikan-aku. “Itu tidak penting.”
Daphne menatapnya beberapa saat, seolah menunggu Simon
berubah pikiran, kemudian kembali menoleh kepada kakaknya. “Kalau begitu, apa
kau mengakui kebijakan rencana kami?”
“’Bijak’ mungkin terlalu bagus, tapi–” Anthony
terlihat tidak rela mengatakannya–“aku bisa mengerti bagaimana hal ini mungkin
akan menguntungkanmu.”
“Anthony, aku harus menemukan suami. Selain fakta ibu
merongrongku setengah mati, aku menginginkan suami. Aku ingin menikah
dan punya keluargaku sendiri. Aku menginginkannya lebih daripada yang bisa kau
bayangkan. Dan sejauh ini, tidak ada pria layak yang pernah meminangku.”
Simon tidak tahu bagaimana mungkin Anthony bisa
bertahan menghadapi permohonan hangat di mata kelam gadis itu. Dan, benar saja,
Anthony melemas ke meja dan mengerang letih. “Baiklah,” ujarnya, memejamkan
mata seolah ia tidak bisa memercayai apa yang dikatakannya, “kalau memang
harus, aku akan menyetujui rencana ini.”
Daphne meloncat dan memeluk kakaknya.
“Oh, Anthony, aku tahu kau kakakku yang terbaik.” Ia
mencium pipi kakaknya. “Kau hanya terkadang salah arah.”
Anthony memandang ke atas dengan pasrah sebelum
memusatkan perhatiannya pada Simon. “Kau lihat tidak apa yang harus kuhadapi?”
tanyanya sambil menggeleng. Suaranya mengandung nada khusus yang hanya
digunakan oleh seorang pria yang putus asa kepada sesamanya.
Simon terkekeh pelan sembari bertanya-tanya kapan
dirinya berubah dari perayu jahat menjadi teman baik.
“Tapi,” ucap Anthony keras, mendorong Daphne mundur
selangkah, “ada beberapa persyaratan dariku.”
Daphne tidak berkata apa-apa, hanya berkedip sembari
menunggu kakaknya melanjutkan ucapannya.
“Pertama-tama, hal ini tidak tersebar ke luar dari
ruangan ini.”
“Setuju,” sahut Daphne cepat.
Anthony menatap penuh arti kepada Simon.
“Tentu saja,” jawab Simon.
“Ibu pasti sangat kecewa jika dia tahu yang
sebenarnya.”
“Sebenarnya,” gumam Simon, “aku lebih suka berpikir
ibumu akan mengagumi kecerdikan kami, tapi karena jelas kau sudah lebih lama
mengenalnya, lebih baik aku mengikuti saranmu.”
Anthony menatapnya dengan dingin. “Kedua, dalam
situasi apa pun, kalian tidak boleh sendirian saja. Kapan pun.”
“Yah, itu sih gampang,” sahut Daphne, “karena lagi
pula, kami tidak diizinkan sendirian jika kami sungguh-sungguh dalam proses
pendekatan.”
Simon mengenang pertemuan singkat mereka di aula rumah
Lady Danbury, dan merasa rugi karena tidak diizinkan punya waktu sendirian lagi
bersama Daphne, tapi ia mengenali dinding kokoh ketika melihatnya, terutama
ketika dinding tersebut kebetulan bernama Anthony Bridgerton. Jadi ia hanya mengangguk
dan menggumamkan persetujuannya.
“Ketiga–”
“masih ada yang ketiga?” tanya Daphne.
“Ada tiga puluh syarat kalau saja aku bisa
menemukannya,” gerutu Anthony.
“Baiklah,” Daphne mengalah, terlihat sangat gemas.
“Jika memang harus.”
Untuk sedetik Simon pikir Anthony akan mencekik gadis
itu.
“Apa yang kau tertawakan?” desak Anthony.
Baru pada saat itu Simon menyadari dirinya tertawa
singkat dan pelan. “Bukan apa-apa,” jawabnya cepat.
“Bagus,” geram Anthony, “karena syarat ketiganya: Jika
aku pernah, sekali pun, memergokimu melakukan tindakan apa pun yang merusak
reputasinya… Jika aku bahkan pernah menangkap basah kau mencium tangan Daphne
tanpa kehadiran pendamping, aku akan memenggal kepalamu.”
Daphne berkedip. “Tidakkah menurutmu itu agak berlebihan?”
Anthony menatap tajam ke arah Daphne. “Tidak.”
“Oh.”
“Hastings?”
Simon tidak punya pilihan selain mengangguk.
“Bagus,” sahut Anthony parau. “Dan sekarang karena
kita sudah selesai membahas hal itu, kau”– ia mengedikkan kepala dengan agak
kasar ke arah Simon– “bisa pergi.”
“Anthony!” seru Daphne.
“Aku berasumsi ini berarti aku batal diundang makan
malam hari ini?” tanya Simon.
“ya.”
“Tidak!” Daphne menusuk lengan kakaknya. “Kau
mengundang Hastings untuk makan malam? Kenapa kau tidak bilang-bilang?”
“Itu sudah beberapa hari yang lalu,” gerutu Anthony.
“Bertahun-tahun lalu.”
“Itu baru senin kemarin,” tukas Simon.
“Yah, kalau begitu kau harus bergabung dengan kami,”
ucap Daphne tegas. “Ibu pasti akan sangat senang. Dan kau”–ia menusukkan
jarinya ke lengan Anthony–“berhentilah memikirkan cara meracuni His Grace.”
Sebelum Anthony bisa merespons, Simon meremehkan
kata-kata Daphne dengan kekehan. “Jangan mengkhawatirkan diriku, Daphne. Kau
lupa aku bersekolah bersama kakakmu selama hampir satu dekade. Dia tidak pernah
memahami prinsip kimia.”
“Aku akan membunuhnya,” kata Anthony pada dirinya
sendiri. “Sebelum minggu ini berakhir, aku akan membunuhnya.”
“Tidak, kau takkan membunuhnya,” bantah Daphne riang. “Besok
kalian sudah akan melupakan semua ini dan menghisap cerutu di White’s.”
“Kurasa tidak,” tukas Anthony mengancam.
“Tentu saja ya. Tidakkah kau setuju, Simon?”
Simon mencermati wajah sahabat baiknya dan menyadari
ia melihat sesuatu yang baru. Sesuatu di mata sahabatnya. Sesuatu yang serius.
Enam tahun lalu, ketika Simon meninggalkan Inggris, ia
dan Anthony masih pemuda tanggung. Oh, mereka pikir mereka sudah dewasa. Mereka
berjudi, meniduri banyak wanita, dan berhura-hura di antara masyarakat kelas
atas, dibutakan oleh status masing-masing, tapi sekarang mereka tidak lagi
begitu.
Sekarang mereka benar-benar sudah dewasa.
Simon merasakan perubahan da;am dirinya, selama
perjalanannya. Itu perubahan yang berlangung dengan pelan, seiring berjalannya
waktu manakala ia menghadapi tantangan baru. Tapi sekarang ia menyadari ia
kembali ke Inggris masih membayangkan Anthony sebagai pemuda berusia 22 tahun
yang dulu ditinggalkannya.
Ia tersadar dirinya telah bersikap sangat tidak adil
kepada sahabatnya, gagal menyadari pria itu juga sudah menjadi pria dewasa.
Anthony mempunyai tanggung jawab yang tidak pernah dibayangkan oleh Simon.
Anthony mempunyai adik lelaki yang harus dibimbing, dan adik perempuan yang
harus dilindungi. Simon punya gelar duke, tapi Anthony punya keluarga.
Itu perbedaan yang amat sangat besar, dan Simon
mendapati dirinya tidak bisa menyalahkan sikap sahabatnya yang overprotektif
dan agak degil.
“Menurutku,” ucap Simon perlahan, akhirnya menjawab
pertanyaan Daphne, “aku dan kakakmu orang yang berbeda dibanding enam tahun
lalu ketika kami bertingkah laku liar dan semaunya sendiri. Dan menurutku itu
mungkin bukanlah hal yang buruk.”
Beberapa jam kemudian, kediaman Bridgerton kacau
balau.
Daphne telah mengganti bajunya dengan gaun malam
beledu berwarna hijau tua–seseorang pernah berkomentar bahwa pakaian itu
membuat matanya tidak terlalu terlihat coklat. Dan saat ini ia berada di aula
utama, berusaha mencari cara menenangkan kegugupan ibunya.
“Aku tidak percaya Anthony lupa memberitahuku dia
mengundang sang duke untuk makan malam. Aku tidak punya waktu untuk
bersiap-siap. Sama sekali,” tutur Violet, sebelah tangannya ditekankan ke
dadanya.
Daphne mengamati menu di tangannya, yang dimulai
dengan sup bulus dan menyantap tiga masakan lainnya sebelum berakhir dengan
domba dengan saus bechamel–saus putih kental yang terbuat dari mentega
dan krim–(tentu saja dilanjutkan dengan memilih salah satu dari keempat makanan
pencuci mulut). Ia berusaha menyingkirkan nada sinis dari suaranya manakala
berkata, “Kurasa sang duke takkan punya alasan untuk mengeluh.”
“Kuharap begitu,” balas Violet. “Tapi kalau aku tahu
dia mau datang, aku akan memastikan aku menyediakan hidangan daging sapi juga.
Orang tidak dapat menjamu orang lain tanpa hidangan daging sapi.”
“Dia tahu ini acara makan informal.”
Violet menatap tajam kepada putrinya. “Tidak ada yang
namanya acara makan informal ketika ada duke yang bertamu.”
Daphne mengamati ibunya lekat-lekat. Violet
meremas-remas tangannya dan mengertakkan gigi. “Ibu,” ujar Daphne, “kurasa sang
duke bukanlah tipe orang yang mengharapkan kita untuk secara drastis mengubah
rencana makan malam keluarga demi dirinya.”
“Dia mungkin tidak mengharapkannya,” tutur Violet, “melainkan
aku. Daphne, ada beberapa aturan dalam masyarakat. Pengharapan. Dan sejujurnya,
aku tidak tahu bagaimana kau bisa begitu tenang dan tidak peduli.”
“Aku bukannya tidak peduli!”
“Kau sudah pasti tidak terlihat gugup.” Violet
mencermati putrinya dengan curiga. “Kenapa kau bisa tidak merasa gugup? Ya
ampun, Daphne, pria ini mempertimbangkan untuk menikahimu.”
Daphne berhasil menahan diri tepat sebelum ia
mengerang. “Dia tidak pernah bilang begitu, Bu.”
“Dia tidak perlu mengatakannya. Buat apa lagi dia berdansa
denganmu semalam? Satu-satunya wanita lain yang dihormatinya sebesar itu adalah
Penelope Featherington, dan kita berdua tahu itu pasti gara-gara rasa iba.”
“Aku suka Penelope,” kata Daphne.
“Aku juga suka Penelope,” balas Violet, “dan aku
sangat mengharapkan hari di mana I bunya menyadari bahwa gadis dengan kulit dan
rambut sepertinya tidak bisa mengenakan satin jingga, tapi bukan itu inti
masalahnya.”
“Apa inti masalahnya?”
“Aku tidak tahu!” Violet nyaris menangis.
Daphne menggeleng. “Aku akan mencari Eloise.”
“Ya, baiklah,” ucap Violet sambil lalu, “dan pastika
Gregory sudah bersih. Dia tidak pernah membersihkan bagian belakang telinganya.
Dan Hyacinth–Astaga, apa yang akan kita lakukan dengan Hyacinth–Hastings tak
kan mengharapkan anak berumur sepuluh tahun di meja.”
“Ya, dia akan mengharapkannya,” sahut Daphne sabar. “anthony
memberitahunya kita akan makan sebagai keluarga.”
“Kebanyakan keluarga tidak mengizinkan anak-anak
mereka yang masih kecil untuk makan bersama mereka,” papar Violet.
“Kalau begitu itu masalah mereka.” Daphne akhirnya
menyerah terhadap kekesalannya dan mendesah keras. “Ibu, aku sudah berbicara
dengan sang duke. Dia mengerti ini bukan acara makan resmi. Dia sendiri
memberitahuku dia memang mengharapkan suasana yang berbeda. Dia tidak punya
keluarga, jadi tidak pernah merasakan apa pun seperti makan malam keluarga
Bridgerton.”
“Semoga Tuhan membantu kita.” Wajah Violet langsung
pucat pasi. “Sudahlah, Ibu,” ucap Daphne cepat-cepat, “aku tahu apa yang engkau
pikirkan, dan percayalah kau tidak perlu mengkhawatirkan Gregory menaruh
kentang krim di kursi Francesca lagi. Aku yakin dia sudah meninggalkan tindak
tanduk kekanakan semacam itu.”
“Dia melakukannya minggu lalu!”
“Yah, kalau begitu aku yakin dia sudah kapok,” balas
Daphne lugas, tidak ragu sedikit pun.
Sorot mata Violet yang diarahkan kepada putrinya
terlihat amat sangat curiga.
“Baiklah,” ucap Daphne, suaranya jauh lebih ramah, “kalau
begitu aku akan mengancam akan membunuhnya jika dia mengecewakanmu dalam ahl
apa pun.”
“Kematian tidak menakutkan bagi Gregory,” renung
Violet, “tapi mungkin aku bisa mengancam untuk menjual kudanya.”
“Dia takkan pernah memercayaimu.”
“Tidak, kau benar. Aku terlalu lunak,” Violet
mengerutkan dahi. “Tapi dia mungkin memercayaiku jika aku memberitahunya dia
akan dilarang berkuda seperti yang dilakukannya sehari-hari.”
“Itu mungkin berhasil,” Daphne menyetujui. “Bagus. Aku
akan pergi dan mengancamnya supaya tidak bertingkah aneh-aneh.” Violet
mengambil dua langkah kemudian berbalik. “Punya anak itu tantangan yang sulit.”
Daphne hanya tersenyum. Ia tahu itu tantrangan yang
disukai ibunya.
Violet berdehem pelan, menandakan pembicaraan yang
lebih serius. “Aku sungguh berharap makan malam ini berjalan dengan baik,
Daphne. Kurasa Hastings bisa menjadi pasangan yang bagus untukmu.”
“Mungkin?” goda Daphne. “Kupikir duke merupakan
pasangan yang baik bahkan jika mereka punya dua kepala dan meludah sembari
berbicara.” Ia tergelak. “Dari kedua mulut mereka.”
Violet tersenyum takzim. “Kau mungkin sulit
memercayainya, Daphne, tapi aku tidak ingin melihatmu menikah dengan sembarang
orang. Aku mungkin memperkenalkanmu dengan begitu banyak pria yang layak, tapi
itu hanya karena aku ingin kau mempunyai sebanyak mungkin pengagum yang akan
kau pilih sebagai suamimu.” Violet tersenyum sendu. “Impian terbesarku adalah
melihatmu sebahagia diriku ketika aku bersama ayahmu.”
Kemudian, sebelum Daphne bisa membalasnya, Violet sudah
menghilang di Aula.
Meninggalkan Daphne diliputi keraguan.
Mungkin rencana dengan Hastings ini ternyata bukanlah
gagasan yang bagus. Violet pasti sedih sekali ketika mereka memutuskan hubungan
palsu mereka. Simon berkata Daphe boleh menjadi pihak yang memutuskannya, tapi
ia mulai bertanya-tanya apa mungkin lebih baik jika pria itu yang
memutuskannya. Memang memalukan bagi Daphne untuk dicampakkan oleh Simon, tapi
paling tidak dengan begitu ia tidak perlu menghadapi keluh-kesah bingung “Kenapa?”
Violet.
Violet bakal berpikir Daphne sudah gila karena
melepaskan Simon.
Dan membuat Daphne bertanya-tanya apa mungkin ibunya
memang benar.
Simon tidak siap menghadapi makan malam bersama
keluarga Bridgerton. Itu acara yang berisik dan riuh-rendah, dengan banyak tawa
dan, untungnya, hanya satu insiden menyangkut kacang polong terbang. (Tampaknya
kacang polong itu berasal dari tempat Hyacinth duduk, tapi anak bungsu
Bridgerton itu terlihat begitu polos dan manis hingga Simon sulit memercayai
anak perempuan itulah yang melempar kacang polong ke arah kakak lelakinya.)
Untungnya Violet tidak menyadari kacang polong terbang
itu, walaupun benda tersebut melayang tepat di atas kepalanya dalam lengkungan
yang sempurna.
Tapi Daphne, yang duduk tepat di seberang Simon, jelas
melihatnya, karena gadis itu langsung menyambar serbet untuk menutupi mulutnya.
Melihat mata gadis berkerut di sudutnya, Dpahne pasti tertawa di balik kain
linen bujur sangkar tersebut.
Simon nyaris tidak berbicara sepanjang acara makan
malam itu. Sejujurnya, lebih mudah mendengarkan para Bridgerton daripada
benar-benar mencoba berbicara dengan mereka, terutama mengingat sejumlah
tatapan tajam yang diterimanya dari Anthony dan Benedict.
Tapi Simon ditempatkan di ujung meja yang satunya,
menjauhi kedua anak tertua Bridgerton (ia yakin ini bukan kebetulan, melainkan
disengaja oleh Violet) jadi relatif mudah baginya untuk mengabaikan kedua orang
itu dan alih-alih menikmati interaksi Daphne dengan keluarganya. Zesekali salah
satu di antara mereka bertanya langsung kepadanya, dan ia akan menjawabnya,
kemudian ia akan kembali mengamati mereka sambil berdiam diri.
Akhirnya, Hyacinth, yang duduk di kanan Daphne,
menatap mata Simon lurus-lurus dan berkata, “Kau tidak banyak bicara, ya?”
Violet tersedak minuman anggurnya.
“Sang duke,” ujar Daphne kepada Hyacinth, “jauh lebih
sopan dibanding kita, yang tanpa henti terjun dalam pembicaraan dan menyela
satu sama lain seolah takut kata-kata kita takkan didengar.”
“Aku tidak takut kata-kataku takkan terdengar,” sahut
Gregory.
“Aku juga tidak mengkhawatirkannya,” komentar Violet
hambar. “Gregory, habiskan kacang polongmu.”
“Tapi Hyacinth – ”
“Lady Bridgerton,” ucap Simon keras-keras, “bolehkan
aku menambah kacang polong yang lezat itu?”
“Wah, tentu saja.” Violet menatap tajam kepada
Gregory. “Lihat, sang duke menghabiskan kacang polongnya.”
Gregory melahap kacang polongnya.
Simon tersenyum simpul sembari menyendok seporsi
kacang polong lagi ke piringnya, bersyukur Lady Bridgerton tidak memutuskan
untuk menyajikan makan malam secara informal. Sulit baginya untuk menghalangi
tuduhan Gregory tentang Hyacinth sebagai pelempar kacang polong jika ia harus
memanggil jongos untuk mengambilkan makanannya.
Simon menyibukkan diri dengan kacang polongnya, karena
ia benar-benar tidak punya pilihan selain menghabiskannya tanpa sisa sebutir
pun. Namun ia diam-diam melirik ke arah
Daphne yang menyunggingkan senyum samar. Mata gadis itu memancarkan rasa geli,
dan Simon merasakan sudut bibirnya ikut melekuk naik.
“Anthony, kenapa kau cemberut?” tabnya salah satu anak
perempuan Bridgerton lainnya – Simon pikir itu mungkin Francesca, tapi ia sulit
memastikannya. Kedua anak perempuan itu terlihat amat mirip, bahkan sampai ke
mata biru mereka, seperti ibu mereka.
“Aku tidak cemberut,” bantah Anthony keras, tapi
Simon, karena sudah hampir satu jam menerima tatapan cemberut itu, berpikir
sahabatnya berbohong.
“Ya, kok,” kata Francesca atau eloise.
Nada jawaban Anthony amat sangat angkuh. “Kalau kau
pikir aku akan berkata ‘nggak kok,’ kau salah besar,”
Daphne tertawa di balik serbetnya lagi.
Simon memutuskan saat ini kehidupan jauh lebih menyenangkan
dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Tahu tidak,” mendadak Violet mengumumkan, “menurutku
ini salah satu malam paling menyenangkan tahun ini. Bahkan jika anak bungsuku
melemparkan kacang polongnya,” ia melirik ke ujung meja, ke arah Hyacinth.
Simon mendongak tepat ketika Hyacinth berseru, “bagaimana
kau bisa tahu?”
Violet menggeleng sembari memutar bola matanya. “anak-anakku
sayang, kapankah kalain belajar bahwa aku tahu segalanya?” komentarnya.
Simon memutuskan ia sangat menghormati Violet
Bridgerton.
Tapi, meski demikian, wanita itu berhasil benar-benar
membingungkannya dengan pertanyaan dan menyuman. “Your Grace,” ucap Violet, “kau
sibuk tidak besok?”
Meski berambut pirang dan bermata biru, Violet
terlihat sangat mirip Daphne manakala melontarkan pertanyaan itu hingga untuk
sesaat Simon terpana. Pasti itulah satu-satunya alasan ia tidak berpikir
sebelum menjawab dengan tergagap, “Ti-tidak. Seingatku tidak.”
“Bagus sekali!” seru Violet berseri-seri. “kalau
begitu kau harus bergabung dengan kami dalam piknik ke Greenwich.”
“Greenwich?” ulang Simon.
“Ya, sudah beberapa minggu ini kami merencanakan
piknik keluarga. Kami pikir kami akan menyewa kapal, kemudian mungkin berpiknik
di pesisir Thames.” Violet tersenyum yakin kepada Simon. “kau mau ikut, bukan?”
“Ibu,” sela Daphne, “aku yakin sang duke sudah punya
sejumlah janji lain.”
Violet menatap Daphne dengan tatapan yang sangat
dingin hingga Simon terkejut tidak seorang pun dari mereka berubah menjadi es. “Omong
kosong,” jawab Violet. “Dia sendiri yang berkata dia tidak sibuk.” Ia kembali menghadap
Simon. “Dan kita juga akan mengunjungi The Royal Observatory, jadi kau tidak
perlu khawatir ini akan menjadi kegiatan tanpa arti. Tempat itu tentu saja
tidakd terbuka untuk umum, tapi almarhum suamiku salah satu penyandang dana di
sana, jadi kita pasti bisa masuk.”
Simon menatap Daphne. Gadis itu hanya mengangkat bahu
dan meminta maaf dengan sorot matanya. Ia kembali menatap Violet. “Dengan
senang hati.”
Violet berseri-seri dan menepuk-nepuk lengan Simon.
Dan Simon mendapat firasat kuat nasibnya baru saja
ditetapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar