Hawk? Menyanyi? Lagu nina bobo?
Syair berbahasa Galia terdengar mendesah namun berat –
mengapa sebelumnya Adrienne tak pernah mengira lelaki ini bersuara lembut? Saat
bicara, ia seperti kucing yang mendengkur, saat menyanyi, sepertinya ia mampu
merayu Kepala Biarawati Gereja Hati Kudus.
“Penasaran? Aku melihatmu datang atas kemauanmu sendiri.”
Aksen suaranya menggema saat ia menyelesaikan lagunya.
“Datang ke mana?” Adrienne menukas.
“Untuk dilatih oleh tanganku sendiri.” Nada suaranya
terdengar senang, dan Adrienne mendengar gesekan kain kiltnya saat Hawk
beringsut di kegelapan.
Adrienne tak ingin menjawab.
Jeda yang cukup lama, lalu terdengar kembali gerakan kain,
lalu, “Kau tahu apa yang harus dimiliki oleh seorang pelatih rajawali, sayang?”
“Apa?” Adrienne menggerutu, sambil mundur ke belakang. Ia
menggapai-gapaikan tangannya bagai antena kecil di kegelapan.
“Sesuatu yang menentukan. Hanya beberapa orang yang bisa
menjadi pelatih rajawali yang baik. Seorang pelatih harus memiliki kesabaran
tak terbatas, pendengaran dan penglihatan yang tajam. Harus memiliki jiwa
pemberani, tangan yang kuat namun lembut. Ia harus senantiasa terhubung dengan
rajawalinya. Kau tahu mengapa?”
“Mengapa?” Adrienne berbisik.
“Sebab burung rajawali sangat peka dan hewan yang mudah
terkejut, sayangku. Mereka diketahui sering menderita sakit kepala dan berbagai
bentuk penyakit manusia, sebegitu pekanya mereka. Kepekaan mereka menjadikan
mereka pemburu yang terbaik dan paling sukses sepanjang masa, tapi mereka pun
bisa menjadi sangat menja. Dan haggaed… ah, haggardku yang manis,
ia adalah tantangan terberat dari semuanya. Dan paling banyak memberiku
imbalan.”
Adrienne tak akan menanyakan apa iatu haggard.
“Apa itu haggard, pasti kau bertanya di dalam hatimu
yang keras itu bukan, sayang?” Hawk mengeluarkan suara tertawa yang dalam dan
menggema di dinding baru menara itu yang kini terasa hangat.
“Hentikan memanggilku ‘sayangku’.” Adrienne menggumam sambil
beringsut mundur dengan canggung. Ia harus menemukan dinding untuk bersandar.
Menara ini berbentuk lingkaran, jadi dinding pasti menjamin adanya sebuah pintu.
Tempat ini sangat gelap sama seperti ia buta.
Adrienne mendengar langkah kaki Hawk di atas lantai batu.
Astaga, astaga bagaimana ia bisa melihatnya? Tapi Hawk sedang berjalan
mendekatinya! Adrienne mundur perlahan dengan diam-diam.
“Aku sudah terbiasa dalam gelap, gadisku,” Hawk memberi
peringatan. “Aku pasti menemukanmu. Aku pelatih rajawali terbaik di sini.”
Adrienne membisu, tak mengeluarkan suara.
“Haggard adalah burung rajawali liar dewasa,” Hawk
melanjutkan, suaranya memberi kesan seakan ia sedang tersenyum. “Biasanya
seorang pelatih rajawali enggan menghadapi tantangan untuk melatih seekor haggard,
tapi kadang-kadang, saat bulan purnama di musim gugur semalam, seorang pelatih
rajawali akan melihat seekor rajawali yang istimewa, yang begitu dahsyat,
sehingga ia bersedia mengabaikan segalanya dan menangkap haggard,
bertekad untuk mengikatkan diri padanya. Bersumpah untuk membuat sang haggard
melupakan seluruh masa lalunya yang merdeka – baik suram maupun bahagia dan
mengabdikan masa depannya hanya kepada sang pelatih.”
Adrienne tidak boleh menjawab; lelaki itu akan mengetahui
posisinya.
“Rajawali yang manis, inginkah kuberitahu bagaimana aku meninakkannya?”
Sunyi. Kesunyian mengelilingi mereka seperti hewan yang
berjalan lunglai.
“Pertama-tama kututup penglihatannya, dengan penutup dari
sutera berwarna hitam.”
Adrienne membekap mulutnya untuk menahan seruan dari
mulutnya dengan tangannya yang gemetaran. Lipatan gaunnya bergemerisik saat
Adrienne beringsut menyamping dengan cepat.
“Lalu aku menumpulkan cakarnya.”
Sebuah kerikil bergulir melintasi lantai beberapa meter di
depannya. Adrienne melangkah mundur sambil mencengkram gaunnya agar tetap tak
bergerak.
“Kemudian aku ikatkan tali serta lonceng mungil di
pergelangan kakinya agar aku bisa mengetahui setiap gerakannya, sebab aku pun
berada dalam kegelapan.”
Adrienne menarik napas panjang – hampir seperti terengah –
lalu mengutuk dirinya sendiri karena melakukannya, sebab Hawk akan bisa
mengetahui letaknya. Adrienne tahu strategi Hawk adalah terus bicara sampai
akhirnya Adrienne terprovokasi sehingga mengungkap posisinya sendiri. Lalu
apa? Adrienne pun bertanya-tanya. Apakah Hawk akan bercinta dengannya di
tempat ini di tengah kegelapan menara ini? Ia bergidik membayangkannya, dan
Adrienne yakin bukan karena jijik. Sama sekali bukan.
“Lalu seutas tali kekang untuk menuntunnya ke tempatnya
bertengger sampai aku tak memerlukan tali kekang lagi. Sampai ia bisa
dilepaskan atas keinginannya sendiri. Dan bagian yang paling baik – proses yang
lamban dan lama mengikatkan diri padaku. Aku menyanyi untuknya, lagu yang sama
sampai ia terbiasa mendengar suaraku, dan hanya suaraku…”
Lalu suaranya yang halus kembali menyanyikan lagu nina bobo,
seolah melelehkan keteguhan Adrienne.
Adrienne melangkah pelan-pelan ke belakang; ia bisa
merasakan hembusan sangin saat Hawk melintas, hanya beberapa inci di depannya.
Di mana letak dinding yang ia cari?
Adrienne hampir menjerit ketika tiba-tiba Hawk menemukannya
dalam kegelapan, berjuang melepaskan diri dari dekapan Hawk yang seketat baja.
Nafas Hawk menghembusi wajah Adrienne dan ia tetap berusaha melepaskan diri.
“Tenanglah, rajawaliku. Aku tak akan menyakitimu. Tak akan,” Hawk berbisik.
Adrienne merasakan panasnya paha Hawk membakar kulitnya
menembus gaun sutera yang ia kenakan. Adrienne terlingkupi aroma lelaki. Wahai
lelaki rupawan, mengapa aku tidak mengenalimu sebelum harapanku yang terakhir
hancur berantakan? Mengapa aku tak berjumpa denganmu saat aku masih punya rasa
percaya? Adrienne berduka. Ia meronta dari dekapan Hawk, yang semakin
mendekapnya, menenangkannya.
“Lepaskan!”
Hawk mengacuhkan protesnya, mendekapnya lebih dekat dengan
pelukan erat. “Ya, tampaknya aku terpaksa meringkusmu. Atau mungkin aku harus
mengikat tanganmu dan menutup matamu dengan sutera, lalu membaringkanmu di
ranjangku, tanpa sehelai benangpun, terbuka untuk setiap sensasi nikmat sampai
akhirnya kau terbiasa dengan sentuhanku. Apakah itu bisa menjinakkanmu,
rajawaliku? Apakah kau bisa belajar mencintai sentuhanku? Mendambanya
sebagaimana aku mendambakanmu?”
Adrienne menelan ludah sambil meronta.
“Seekor rajawali harus senantiasa dihujani dengan cinta yang
kasar dan terus menerus. Dengan mengambil cahaya dari penglihatannya, dengan
menutupinya, ia akan belajar memahami inderanya yang lain. Indera yang tak bisa
berbohong. Rajawali adalah hewan yang cerdas, ia hanya percaya apa yang ia
rasakan, apa yang bisa ia genggam di cakar atau paruhnya. Sentuhan, penciuman,
pendengaran. Dengan memberinya kembali semua hal ini dengan perlahan-lahan, ia
akan terikat pada tangan yang mengembalikan itu semua padanya. Jika ia tak bisa
memercayai tuannya dan tak memberikan kesetiaan yang utuh pada tuannya saat masa
pelatihannya berakhir – ia akan selalu mencari kesempatan untuk membebaskan
diri. Tak ada satu pun rajawali milikku terbang dari tanganku dan tak kembali.”
Hawk berkata.
“Aku bukan burung tolol-”
“Bukan, bukan tolol, tapi yang terbaik. Kemampuan terbang,
kecepatan dan akurasi burung rajawali hanya dapat ditandingi oleh jenisnya
sendiri. Apalagi kekuatan hatinya.”
Adrienne sudah terhanyut saat ia mendengar Hawk mulai
menyanyi. Ia tidak memprotes saat bibir Hawk menyapu bibirnya dengan ringan.
Adrienne juga tidak memprotes saat kemudian tangan Hawk yang mendekap dirinya
menjadi kaku, panas dan meradang. Merayu. Meraih.
“Maukah kau melayang denganku, rajawali manisku? Aku akan
membawamu lebih tinggi dari yang pernah kau rasakan. Akan kuajari cara mencapai
ketinggian di puncak yang sebelumnya tak pernah kau bayangkan,” ia mengumbar
janji sambil menabur ciuman ke rahang, pucuk hidung dan kelopak mata Adrienne,
telapak tangannya menimang rahang Adrienne di kegelapan, meraba setiap lekuk,
setiap landai dan dekik halus wajah dan leher Adrienne dengan jemarinya,
menyimpan ingatan tentang nuansa yang dirasakan.
“Rasakan diriku, gadisku. Rasakan apa yang kau perbuat
padaku!” Ia menekan tubuhnya ke tubuh Adrienne dan menggerakkan pinggulnya,
memastikan Adrienne merasakan kejantanannya yang bangkit dari bawah kiltnya,
dan menggoda bagian dalam paha Adrienne.
Dan barulah dindingnya ditemukan; selama ini ada di belakang
Adrienne. Dinding batu sejuk di punggungnya serta panasnya neraka dari tubuh
Hawk membakar bagian depan gaun Adrienne. Ia mengangkat tangannya untuk meninju
Hawk, tapi Hawk menangkap tangannya dan menekannya ke dinding di atas kepala
Adrienne. Jemari Hawk yang kuat membuka kepalan Adrienne, mejalinkannya dengan
jemarinya sendiri dan menggoda tangan Adrienne. Telapak tangan saling
mencengkram, menekan ke arah dinding batu.
“Rajawali manisku,” ia berbisik ke leher Adrienne.
“Merontalah sesukamu, tak akan ada hasilnya. Aku sudah membulatkan tekad
padamu, dan ini adalah pertama kalinya kau akan tertutup selubung. Di kegelapan
ini kau hanya akan merasakan tanganku yang akan menyentuh setiap jengkal
tubuhmu. Aku tak akan menuntut lebih dari itu. Hanya gar kau menderita
merasakan sentuhanku, bahkan kau tak perlu melihat wajahku. Aku akan bersabar
sampai kau terbiasa dengan sentuhan tanganku.”
Tangan Hawk bagaikan bara api cair, mengalir ke dalam
gaunnya dan terus ke atas sampai oh! Pagi ini Adrienne sama sekali tak tahu di
mana harus mencari pakaian dalam. Tangannya, tangannya yang kuat dan indah
meremas paha Adrienne, mendorong membuka pahanya dan menyelipkan paha Hawk yang
berotot panas ke sela-sela paha Adrienne. Hawk menggeram lirih, ungkapan
kemenangan maskulin, saat ia merasakan kelembaban di antara paha Adrienne.
Adrienne memerah padam; tangannya menggelepar memegang bahu Hawk, lalu
menyelipkannya ke dalam rambut Hawk yang lebat dan halus. Lutut Adrienne lemas,
saat Hawk menyibakkan gaunnya dan menjatuhkan kepala ke payudara Adrienne,
menjilat dan memamah puncaknya dengan lidah, kemudian gigi.
Adrienne tak menyadari kapan Hawk mengangkat kiltnya; tapi
ia sangat menyadari saat kejantanan Hawk yang panas dan keras bergerak menegang
di pahanya. Adrienne mengeluarkan suara serak; separuh merengek, separuh
memohon. Teganya ia melakukan ini? Hanya dengan menyentuhnya, Hawk mampu
merobek setiap pertahanan yang setengah mati dibangun Adrienne dan
disamarkannya di jubah sikap acuhnya yang ia kenakan selama ini.
Hal seperti ini tak pernah terjadi dengan Ebenhard! Benak
Adrienne meninggalkan tubuhnya dan ia bertahan pada sesosok tangan yang menaruh
selubung di kepalanya. Tangan yang melarangnya melihat, membuatnya mencecap
dengan bibirnya memalingkan leher lalu menangkap jari Hawk dengan lidahnya.
Adrienne hampir menjerit saat Hawk meletakkan jari yang sama ke pangkal paha
Adrienne yang tengah membara. “Terbanglah, rajawaliku,” ujar Hawk, sambil
menampung sebelah payudara Adrienne dengan tangannya lalu menjilatinya. Hawk
menggoda Adrienne tanpa ampun, mengecup, menyentuhnya di mana-mana.
Bibir Hawk kembali melingkupi bibir Adrienne dengan semburan
rasa dahaga yang telah lama diabaikan. Dahaga yang mungkin tak akan pernah
terpuaskan. Ciuman Hawk terasa kuat, lama, seakan menghukum, dan Adrienne tunduk
pada tuntutan Hawk yang tak terucap itu. Rintihan terdengar dari mulut Adrienne
saat ibu jari Hawk menemukan titik membara di antara paha Adrienne, membuat
kepalanya terlempar ke belakang sebab gelombang demi gelombang kenikmatan
bergulung naik. Tunduk pada jemari, lidah, dan bibir Hawk, Adrienne akhirnya mengorbankan
sisa pertahanan terakhir yang ia miliki.
“Adrienne,” Hawk berbisik parau, “Kau cantik sekali, manis
sekali. Dambakan aku, sayang. Dambakan aku seperti aku menginginkanmu.”
Adrienne merasakan hawa panas dari sebuah tempat yang pernah
ia pelajari – menariknya lebih dalam lagi.
Adrienne berjuang mengucapkan kata-kata yang harus dia
ucapkan. Satu kata yang ia tahu bisa membebaskannya. Sang penakluk wanita
legendaris ini – oh, betapa mudahnya mengerti mengapa ribuan wanita sudah
takluk di hadapannya! Lelaki ini sangat lihai. Lelaki ini hampir membuatnya
percaya bahwa hanya Adrienne lah yang diinginkan lelaki ini. Hampir saja ia
menjadi orang bodoh sekali lagi.
Tapi oleh sebab itulah mereka dinamakan bajingan. Pemikat.
Don Juan. Mereka menerapkan keahlian yang sama dan kegigihan tak berkesudahan
baik dalam merayu maupun di medan perang – untuk menaklukan apa pun.
Sambil membangkitkan lagi pertahanannya, Adrienne menguatkan
diri melawan serangan Hawk.
Hawk sudah terhanyut. Hanyut seperti pertama ia melihat
gadis memesona ini. Tak masalah gadis ini memiliki khayalan yang timbul dari
rahasia masa lalu yang kelam. Hawk akan menemukan cara untuk menyingkirkan
semua rasa takutnya. Semua yang diceritakan Grimm tidak berarti apa-apa. Dengan
cinta, ia bisa mengatasi rintangan apa pun. Adrienne akan menjadi istrinya,
sekarang dan selamanya. Hawk akan selalu mengenang saat ini, saat Adrienne
menyerah di tangannya, bibirnya semanis madu yang ia nikmati seperti sebentuk
panganan langka, Hawk gemetar atas bayangan bahwa kelak Adrienne akan merasakan
hal yang sama seperti yang ia rasakan padanya. Dengan Adrienne, tak akan ada
lagi perasaan kosong dan hampa seperti sebelumnya.
Tidak, dengan wanita ini ia akan menjadi pasangannya seumur
hidup. Wanita ini tidak tertarik pada wajah tampan seperti wanita lainnya.
Wanita ini memiliki rahasia tersendiri. Secara keseluruhan, memang seorang
wanita yang berbeda. Hawk merasa makin tenggelam ke dalam wanita ini… ciumannya
menjadi semakin ganas dan dalam, dan Hawk merasakan gigi Adrienne menggesek
bibir bawahnya. Itu membuatnya seakan gila kehilangan kendali.
“Oh,” Adrienne mendesah, saat Hawk mengecup lehernya yang
sehalus sutera.
Merasa berhasil, Hawk mempersiapkan kata-kata pertamanya. Ia
harus memberitahu Adrienne, agar ia memahami bahwa ini bukan permainan. Bahwa
seumur hidupnya, Hawk belum pernah merasa demikian, dan mungkin tak akan pernah
lagi. Adriennelah yang ia tunggu-tunggu sejak dulu – satu-satunya yang
melengkapi hatinya. “Ari, sayangku, cintaku, aku-”
“Oh, sst, diamlah, Adam! Tak perlu berkata-kata.” Adrienne
mennekankan bibirnya ke bibir Hawk untuk membungkamnya.
Hawk mematung dingin, kaku bagai gleitser kutub utara dan
membeku.
Bibir Hawek terdiam, dan hati Adrienne menjerit sedih. Tapi
jeritannya akan lebih parah lagi jika ia jatuh menjadi korban lagi?
Tangan Hawk mencengkram sisi tubuh Adrienne dengan kejam.
Pati akan meninggalkan bekas berhari-hari. Perlahan-lahan, sangat perlahan,
satu per satu jemarinya terbuka.
Adrienne mengucapkan mananya!
“Sekali lagi kau mengucapkan nama Adam, aku tak akan lagi
meminta apa yang sudah menjadi hakku. Kau tampaknya lupa kau sudah menjadi
milikku. Aku tak perlu lagi merayumu jika aku tinggal membawamu ke ranjangku.
Pilihan ada di tanganmu, Adrienne. Kuperingatkan – pilihlah baik-baik.”
Hawk meninggalkan tempat itu tanpa sepatah kata lagi,
meninggalkan Adrienne di kegelapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar